PB, Jakarta — Luar biasa memuakkannya sikap rezim dan para begundalnya. Kalah argumentasi main kayu, kalah dalil main lapor polisi. Tak sedikitpun menyisakan sikap kesatria, apalagi mengokohkan diri sebagai seorang negarawan.
Setidaknya, kesimpulan itu yang mampu kita unduh dari pernyataan yang di-upload kubu rezim. Yusril, mempertimbangkan akan memproses hukum keterangan Hairul Anas Suaidi. Moeldoko juga akan mengambil sikap yang sama.
Yusril merasa tak mampu mengkondisikan Anas, sehingga membuat malu PBB. Caleg dari PBB ini, membuka aib kubu Jokowi, padahal PBB mendukung pencapresan Jokowi.
Sementara Moeldoko, jelas wirang (baca: malu), karena kata-kata jujurnya yang menyatakan ‘Kecurangan adalah bagian dari demokrasi’ diungkap Anas di forum MK. Jelas, kredibilitas sang mantan panglima TNI ini jatuh tersungkur di mata publik.
Mayoritas rakyat mendukung kejujuran Anas, mendukung keberanian Anas, yang terbuka mengungkap fakta apa adanya. Sangat jarang, bahkan sulit sekali menemukan sosok yang berani seperti Anas. Haris Ahzar yang aktivis saja ciut nyali dan akhirnya membatalkan untuk bersaksi di sidang MK.
Sebenarnya, bagi Yusril maupun Moeldoko keliru besar jika mempersoalkan Anas. Ibarat bertarung, Yusril dan Moeldoko kalah set dengan Anas. Menang ga kondang, kalah jelas wirang (menang tidak terkenal, kalah akan memalukan).
Bagaimana mungkin sosok tokoh nasional seperti Yusril dan Moeldoko ngurusi Anas yang baru anak kemarin sore? Kalau ga mau malu, cari kesalahan Anas yang lain, dan cukup perintahkan orang lain yang lapor polisi, tidak perlu Yusril atau Moeldoko yang turun gunung.
Namun, jika Yusril dan Moeldoko tetap memperkarakan Anas, maka kepada segenap rakyat dan seluruh tumpah darah Indonesia, jangan mau diambil keterangannya sebagai saksi. Jika terpaksa bersaksi, berdustalah untuk penguasa, agar Anda selamat dari jerat pidana.
Serba salah menjadi rakyat kecil di negeri dengan kode +62 ini. Jujur salah, bohong juga dikejar kasus hoax. Diam tertindas, melawan juga dilibas.
Karenanya, hanya orang-orang dengan keberanian berlipat yang berani melawan rezim zhalim dan penindas ini. Tidak cukup pintar, tapi juga berani.
Jika semua rakyat putus urat takutnya, rezim tidak bisa lagi berbuat sekehendak hati. Bahkan, rakyat bisa melakukan amuk secara bersama-sama, mengerubuti rezim dan mencabik-cabik kekuasaan rezim. Camkan itu.

Oleh : Nasrudin Joha

loading...