PB, Lumajang — Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban memimpin Tim Cobra Polres Lumajang untuk melaksanakan rekonstruksi terjadinya penjambretan pada tanggal 3 Juni 2019 silam.

Muhammad Taufiq (24) warga Desa Grati Kecamatan Sumbersuko Kabupaten Lumajang selaku tersangka serta korban W.M (30) warga Kecamatan Sumbersuko Kabupaten Lumajang didatangkan untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi.

Kapolres Lumajang mengatakan bahwa penjabretan itu telah direncanakan oleh pelaku.

“Pelaku telah menunggu selama satu jam di Pom Bensin untuk menunggu mangsa yang cocok. adapun sasaran yang diincarnya yakni perempuan, menggunakan motor matic, menaruh barang di dashboard atau tas dengan cara dicangklong,” ujarnya, Selasa (25/6).

Lanjutnya, saat melihat W.M sesuai dengan ciri-ciri target sesuai yang diharapkan yang saat itu korban berkendara cukup pelan dari arah selatan kearah utara.

“Tersangka langsung mengejar korban dan menyalip dari arah kiri, karena melihat ada dompet di sisi kiri dashboard korban. Saat motor keduanya bersandingan, dengan cepat pelaku mengambil barang tersebut yang berupa dompet dengan menggunakan tangan kanan. Pelaku langsung melarikan diri ke arah utara,” jelasnya.

Kata Kapolres, tersangka mengaku berhenti dan membuka dompet tersebut di Ranu Klakah yang ternyata berisi uang tunai Rp. 1.600.000 serta handphone yang kemudian ia jual seharga Rp. 600.000.

“Selanjutnya ia membuang dompet yang berisi STNK, KTP, NPWP di Ranu Klakah dan pulang ke rumahnya,” imbuhnya.

Kapolres Lumajang mengatakan motif dari pelaku melakukan kejahatan adalah faktor ekonomi.

“Setelah saya introgasi, tersangka mengaku membutuhkan uang untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri. Pekerjaan sebagai kuli bangunan yang mendapat upah sebesar enam puluh ribu Rupiah sehari dinilainya tidak cukup untuk membelikan baju lebaran, sehingga ia gelap mata untuk melakukan aksi ini. Dalam catatan Kepolisian, ia memang baru pertama kali berurusan dengan pihak berwajib,” ungkap pria yang memiliki lambing dua melati di pundak tersebut.

Arsal menambahkan bahwa pelaku melanggar pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal selama 7 tahun penjara.

(Redaksi)

loading...