PB, Lumajang — Satu persatu korban dari Q-Net pun akhirnya bercerita di platform lini masa baik di Facebook, Twitter serta di Instagram.

Akun @DiandraPrasetya yang diposting di facebook group sahabat M.A.S contohnya, menceritakan kisahnya di masa lalu yang hampir tertipu oleh bisnis tersebut. Ia menuliskan pada masa lalu saat dirinya bekerja sebagai TKI di Hongkong, diajak oleh teman baiknya untuk berbisnis di PT Q-Net.

Awalnya ia diajak oleh temannya untuk ikut seminar wirausaha, agar mendapatkan penghasilan tambahan selain dari hasil kerjanya.

Iapun menulis diajak oleh teman nya ke suatu restoran untuk bertemu dengan seseorang yang dikenalkan sebagai senior yang telah sukses di perantauan.

Di restoran tersebut, ia menceritakan ditraktir oleh orang yang baru ia kenal tersebut.

Seusai makan ia diajak untuk masuk ke suatu ruangan yang ternyata di dalam ruangan tersebut dirinya telah ditunggu oleh banyak orang yang tak ia kenal.

Dari situlah seminar tentang PT Q-Net dimulai dan bahkan saking banyaknya yang datang, seminar tersebut dibagi kedalam beberapa sesi.

Dalam seminar tersebut, para pemateri yang selanjutnya disebut sebagai senior menjelaskan berbagai macam khasiat bioglass maupun kalung yang merupakan produk dari PT Q-Net.

Sang penulis menjelaskan bahwa sebenarnya dirinya juga tertarik untuk membeli produk tersebut sekaligus bisa bergabung ke dalam bisnis ini, namun dirinya tak punya uang lantaran telah mengirim gajinya ke rumah.

Iapun akhirnya berjanji kepada para seniornya tersebut untuk bergabung setelah mendapatkan gaji kelak.

Setelah pulang, iapun menghubungi keluarganya yang berada di Indonesia untuk bergabung dengan bisnis tersebut.

Namun jawaban yang ia terima malah berbeda, keluarganya tak menyetujui dirinya bergabung dan mengingatkannya akan tujuan dirinya bekerja.

Lama tak ada kabar, para senior di PT Q-Net pun mulai sok kenal dengan menghubungi dirinya baik melalui Facebook, SMS, maupun telfon seluler.

Karena risih dan tak mau ikut dengan bisnis tersebut, ia pun memblock semua akses dan tak lagi berhubungan dengan mereka.

Di akhir tulisan, ia membeberkan fakta bahwa banyak temannya yang bergabung dalam bisnis tersebut malah terlilit banyak hutang.

Uang hasil pinjaman tersebut mereka pergunakan untuk membeli barang dan pakaian parlente agar dipandang sukses oleh calon anggota baru bisnis tersebut.

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban mengatakan bahwa bisnis ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia.

“Ternyata korban dari PT Q-Net hingga ke luar negeri. Sejauh ini masih dari negara Hongkong yang membuka suara akan bisnis tersebut. Untuk wilayah Indonesia sendiri, mulai dari pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Lampung hingga Sulawesi telah ditemukan korban dari korban member Q-Net. Saya berharap para korban agar melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi terdekat,” jelas Arsal, Jum’at (13/9).

Arsal menegaskan bahwa di banyak negara mekanisme bisnis piramida sangat dilarang.

“Dalam bisnis skema piramida yang mendapatkan keutungan hanya 13 % member sedangkan 87 % member pasti posisi rugi. Itulah kenapa mekanisme piramida dilarang di banyak negara,” jelas pria putra asli Makassar tersebut.

(Redaksi)

loading...