PB, Lumajang — Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban mensosialisasikan bahaya  bisnis perdagangan model piramida kepada mahasiswa STIE Wisya Gama Lumajang, Ahad (15/9).

Pasalnya kata Kapolres kasus money game model ini telah menelan banyak sekali korban di Seluruh Indonesia.

Dia juga menyebutkan bahwa berbagai cara dilakukan senior QNet untuk merekrut anggota baru.

Sementara itu salah satu mahasiswi bernama Fanny mengaku pernah tertipu oleh senior Qnet pada bulan februari 2019 lalu.

Fanny warga Dusun Kebonan Kec Pasirian menjelaskan bahwa dirinya pernah menjadi korban dari bisnis Qnet saat berada di Surabaya.

Dirinya mengaku diarahkan ke gedung Pakuwon Center lantai atas untuk mendapat presentasi dari 2 orang senior QNet bersama banyak orang rekrutan baru lainnya.

Fanny yang kala itu tidak memiliki uang disarankan untuk menggadaikan barang dan menjual semua perhiasannya untuk membeli sebuah produk dari QNet seharga 10Jt.

Fanny menjelaskan dirinya juga dipaksa untuk segera merekrut orang dengan cara yang sama yakni menawarkan pekerjaan sebagai pendata barang dengan gaji 3 juta per bulan.

Fanny yang merasa tertipu mencari cara untuk kabur dari tempat itu dan berhasil melarikan diri karena dibantu ibu Kosnya di Surabaya lalu diantarkan ke terminal agar dapat kembali pulang ke Lumajang.

“Bisnis dengan skema system piramida sangat rentan dijadikan model money games atau permainan uang. Kalaupun ada barang, sebenarnya penjualan barang hanyalah sebagai kedok belaka. dalam konsep skema piramida, secara teoritis yang menang maksimal hanya 13 % dan yang kalah 87 %. makanya model bisnis skema piramida dilarang di banyak negara di dunia karena sangat berbahaya,“ jelas Perwira Polisi kelahiran Makassar itu.

Sedangkan salah seorang mahasiswa STIE Wisya Gama lainnya mengatakan paparan Kapolres Lumajang tentang penipuan sistem bisnis piramid sangat penting dalam menghindari penipuan berkedok bisnis berantai itu.

“Saya berterima kepada pak Kapolres atas pengetahuan terkait money game dengan model bisnis piramida, karena sebelumnya saya tidak tau sama sekali terkait money games,” terang Galih.

(Redaksi)

loading...