PB, Lumajang  — Cerita yang ditulis korban Q-Net di kolom komentar yang berada di Facebook grup ‘Sahabat MAS’ terus mengalir.

Yang terbaru, Ikbal asal garut Jawab Barat yang menceritakan kisahnya di sebuah akun facebook bernama @iball maheksa menceritakan betapa tragisnya dulu saat dirinya diperdaya oleh salah seorang leader Q-Net, Jum’at (20/9).

Saat itu pada tahun 2017, dirinya tergiur oleh tawaran kerja melalui Facebook oleh seseorang yang berinisial J yang berasal dari Lampung.

J menawarkan sebuah pekerjaan di pergudangan dengan gaji mencapai 3,2 juta Rupiah.

Selain itu korban juga tergiur lantaran perusahaan tersebut tak membutuhkan persyaratan yang rumit.

Akhirnya berangkatlah penulis (Ikbal) pada hari Ahad dengan meminta doa dan restu orang tua serta dengan membawa perbekalan yang pas-pasan.

Ikbal mengaku saat itu dirinya sampai di Terminal Bekasi pukul 16.10 WIB dan langsung dijemput oleh taksi online yang telah dipesankan oleh J.

Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya. Mobil tersebut berhenti di tujuan, yakni sebuah kosan kecil yang dihuni oleh 15 orang didalamnya.

Iapun langsung disambut oleh J sembari menanyakan tes wawancara kapan akan dilaksanakan.

J saat itu mengakubkepada dirinya bahwa wawancara akan dilaksanakan pada hari Selasa.

Dari jawaban J tersebut, di benak penulis mulai bertanya-tanya, mengapa tak dilaksanakan interview pada hari Senin saja.

Singkat cerita datanglah hari Selasa, dimana dirinya dibangunkan pukul 05.00 WIB dan disruruh bergegas mandi oleh para leader Q-Net.

Tepat pukul 06.30 WIB, dirinya dijemput oleh sebuah mobil dan hanya 3 orang yang berangkat sedangkan yang lain tetap tertidur pulas.

Sang penulis pun semakin bertanya-tanya atas kejanggalan selama beberapa hari terakhir.

Akhirnya kendaraan pun berhenti di sebuah ruko di daerah Grand Wisata, Tambun, Bekasi Timur.

Ikbal pun bergegas ke lantai dua ruko tersebut dan ternyata telah banyak para ‘pelamar pekerjaan’ seperti dirinya lengkap dengan baju hitam putih.

Handphone Ikbal pun ditahan oleh pihak Q-NET dengan alasan agar lebih konsen dalam wawancara.

Setelah Ikbal menunggu beberapa saat, datanglah seseorang yang disebutnya sebagai ‘tikus berdasi’ ke depan kerumunan.

Mereka berteriak-teriak dan menjelaskan tentang Q-Net. Tak lupa mereka juga sering kali mengeluarkan jargon mereka yakni ‘ora umum. Dari situlah sang penulis sadar bahwa dirinya telah ditipu oleh pihak Q-Net.

Seusai seminar, Ikbal pun langsung kembali ke kontrakan dan ternyata disana dirinya kembali berusaha di cuci otaknya dengan doktrin UGD (Utang Gadai Dol) oleh para leader Q-Net yang berjumlah sekitar 15 orang.

Bahkan mereka berani menyuruhnya untuk menjual rumah milik orang tuanya, namun Ikbal bersikeras tak mau melakukan cara tersebut.

Karena menolak usul para leade QNet itu,  Ikbal pun dicaci maki dengan berbagai umpatan oleh para leader tersebut.

Masih tidak puas dengan mencacinya, para leader pun juga sempat mengejek berbagai macam profesi seperti karyawan, buruh maupun instansi lain yang memiliki gaji cukup minim.

Tidak kuat dengan hal tersebut, keesokan harinya sang penulis pun memilih keluar dari kontrakan tersebut.

Dirinya meminta pertanggung jawaban kepada ‘J’, orang yang mengajak dirinya ke tempat tersebut.

Akhirnya oleh J, Ikbal dipesankan sebuah taksi online yang biayanya 16 ribu rupiah sampai ke terminal.

Saat itu Ikbal yang hanya memiliki uang 15 ribu rupiah terpaksa meminta belas kasih kepada sang pengemudi sehingga sang pengemudi mau mengantarkannya hingga terminal tujuan.

Setelah turun dari kendaraan, Ikbal mengaku berjalan hingga Gerbang Tol Timur di siang bolong sekira pukul 11.22 WIB.

Akibatnya, dirinya yang kelelahan serta kelaparan akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon beralaskan kardus lusuh.

Dirinya yang memang sangat capek, akhirnya tertidur sampai sore hari. Setelah bangun, dirinya yang tak punya pilihan lagi nekat memberhentikan sebuah truk dan meminta izin untuk menumpang.

Akhirnya ada sebuah truk yang kebetulan menuju kea rah Kota Bandung dan dirinya pun menumpang hingga kota tersebut.

Di Kota Bandung, Ikbal turun dan mampir ke sebuah warkop untuk menumpang mengisi daya baterai yang seharian telah habis dayanya.

Setelah terisi, dirinya meminta dijemput salah satu kerabatnya yang berada di kota tersebut, dan memilih tinggal di rumah sang kerabat lantaran malu saat akan pulang ke rumah.

 

Menyikapi kisah Iqbal itu, Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban menerangkan bahwa modus dari para leader Q-Net selalu saja membuka lowongan pekerjaan dengan iming-iming gaji yang lumayan besar.

“Modusnya sama, mereka mencari mangsa para pencari kerja dan dberikan iming-iming sebuah pekerjaan dengan persyaratan mudah serta dengan gaji yang cukup tinggi. Para calon korban akan di tampung terlebih dahulu di sebuah kontrakan ataupun kos-kosan dan selanjutnya akan diajak mendatangi sebuah seminar dan disanalah mereka di cuci otak. Konsep cuci otaknya yang sedemikian rupa membuat peserta benar-benar terpengaruh dan melaksanakan apa yang di inginkan dari senior member QNet,” jelas Perwira Polisi yang menyelesaikan S3 Hukum Bisnis di Universitas Padjajaran Kota Bandung itu.

(Redaksi)

loading...