Pembawaberita.com : UNS-Riset Grup Filologi Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengadakan webinar nasional dan pelatihan digitalisasi naskah. Dalam acara ini, Riset Grup Filologi Melayu menghadirkan Prof. Istadiyantha, Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A., dan Bagus Kurniawan, S.S., M.A. sebagai pembicara.

Acara ini diikuti kurang lebih 190 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri. Dalam materinya, Prof. Istadiyantha yang merupakan Guru Besar FIB UNS menyampaikan materi tentang pernaskahan secara tradisional dan modern.

“Naskah pada zaman dulu tidak semuanya ditulis menggunakan kertas berbahan kulit kayu, tetapi ada juga yang ditulis di papirus. Penulisan naskah di media ini berkembang di wilayah Mesir dan sekitarnya. Ditemukan naskah tertua dari papirus yang berumur 1.500 tahun dengan tulisan mengacu pada kisah Alkitab tentang perjamuan terakhir dan cerita Manna dari Surga,” jelasnya.

Tanaman papirus merupakan sejenis tanaman cairan yang diketahui sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuna. Tanaman ini umumnya ditemukan di tepian dan lembah Sungai Nil.

“Berikutnya naskah lontar, naskah ini menggunakan media daun lontar. Di Masjid Nurussalam, Surabaya terdapat sebuah Al-Quran yang terbuat dari daun lontar. Al-Quran ini memiliki ukuran sekitar 50 cm dan 40 cm dengan tebal sekitar 10 cm,” imbuhnya.

Pembicara berikutnya, Bagus Kurniawan, S.S., M.A. menyampaikan bahwa filologi dianggap sebagai ilmu yang antikuarian, klasik, monoton, dan lain sebagainya.

“Selain harus ahli sastra, seorang filolog juga dituntut sebagai ahli bahasa, seperti Belanda, Sansekerta, Arab, dan sebagainya. Filologi sebelum masuk era digital sangat mustahil berkembang di era pandemi. Namun, era digital menjadikan filologi lebih mudah dilakukan, naskah dapat diakses secara daring. Hemat biaya, waktu,  dan tenaga,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa digitalisasi naskah dapat menjadi pintu masuk menuju filologi modern agar studi tersebut  lebih berkembang, minimal sejajar perkembangannya dengan studi sastra.

“Studi filologi saat ini harus memperhitungkan teknologi lain untuk membantu perkembangannya. Studi Uli Kozok merupakan contoh  studi filologi yang interdisipliner. Bidang-bidang ilmu lain dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan studi filologi. Kemudahan mengakses teks adalah kunci  perkembangan studi filologi di masa depan,” imbuhnya.

Kemudian, pada materi terakhir yang disampaikan oleh Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A., membahas tentang digitalisasi naskah. Ia menjelaskan bahwa banyak manfaat dari digitalisasi naskah, seperti menyediakan bahan penelitian bagi para peminat naskah dengan biaya yang relatif terjangkau khususnya bagi mahasiswa dalam negeri.

“Kemudian menyediakan informasi tentang skriptorium dengan segala atributnya dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman terhadap isi naskah. Hal ini bertujuan agar nilai-nilai universal yang terkandung dalam naskah dapat dijadikan sumber pengetahuan dalam pembangunan bangsa. Selain itu, sebagai alternatif bagi pemerintah dan institusi penyimpan serta pengelola naskah untuk menyelamatkan naskah-naskah kuna,” jelasnya.

Alat yang dibutuhkan dalam digitalisasi naskah antara lain laptop, tripod, kamera, software EOS Utility, lampu penerang, kartu memori, dan beberapa peralatan pendukung lainnya. Setelah pemaparan materi disampaikan, dilanjutkan dengan praktik digitalisasi naskah yang disampaikan oleh Asep Yudha. Hingga praktik dimulai, para peserta terlihat sangat antusias. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat membuka wawasan bagi para pemerhati naskah untuk melestarikan naskah dengan menyesuaikan perkembangan zaman saat ini.

Digitalisasi tahap pertama, fokus pada pembuatan foto atau digitalisasi naskah dalam format RAW/TIFF/JPG/PDF. Digitalisasi tahap kedua, fokus pada pembuatan e-manuscripts atau elektronik-naskah dengan berbagai aplikasi, seperti Keebook, Digibook, Flipbook, Flip PDF Pro, atau Sigil, dsb. Digitalisasi tahap tiga fokus pada pemanfaatan aspek isi naskah untuk digunakan sebagai inspirasi dalam karya-karya yang lebih spektakuler. Misalnya: pertunjukan seni teaterikal “Ila Galigo” yang berangkat dari naskah “Sureq Galigo” dari Bugis-Makasar pada sekitar abad ke 13 dan 14. Pertunjukan itu selama 2 dasawarsa berkeliling dunia memperkenalkan khazanah intelektual bangsa. Inilah yg disebut sbg bagian dari *soft-culture diplomasi*. Selain itu, ada pula film tari “Risang Tetuka” yang diangkat dari naskah *Pustaka Raja Purwa* koleksi Museum Radyapustaka. Bahkan, bisa juga dibuat karya-karya animasi yang dapat memikat para generasi milenial untuk melirik kembali khazanah budaya Nusantara yang sedemikian melimpah.

Dengan demikian, digitalisasi menjadi sebuah arena baru bagi para peminat naskah untuk bereksplorasi dan bersentuhan dengan teknologi kekinian. Sudah siapkah kita untuk menjadi bagian di dalamnya?

(Bayu & Asep)

loading...